Libur kenaikan kelas tahun ini menjadi pengalaman yang berbeda bagi sembilan santri dan dua santri pengabdian. Alih-alih menghabiskan masa liburan dengan kegiatan biasa, mereka memilih melakukan pendakian ke Gunung Gede, Jawa Barat, bersama salah seorang guru yang mendampingi perjalanan tersebut.
Sembilan santri yang mengikuti kegiatan ini adalah Igo, Amzar, Fathir, Ammar, Ahlam, Eshan, Iyar, Adelva, dan Dzaky. Mereka didampingi oleh Khaleed dan Aslam, dua alumni pondok yang tengah menjalani masa pengabdian.
Gagasan pendakian awalnya datang dari Ammar yang mengusulkan Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat. Namun, setelah mempertimbangkan pengalaman sebagian besar peserta yang belum pernah melakukan pendakian, dipilihlah Gunung Gede sebagai tujuan. Jalur pendakian yang relatif ramai dan akses pertolongan yang lebih memungkinkan menjadi salah satu pertimbangan utama.
Sebelum berangkat, seluruh peserta terlebih dahulu meminta izin kepada orang tua masing-masing. Dukungan penuh dari keluarga, termasuk bantuan dalam menyiapkan perlengkapan pendakian, semakin menguatkan tekad rombongan untuk menjalankan kegiatan tersebut dengan penuh tanggung jawab.
Memulai Perjalanan dari Bogor
Rombongan sepakat bertemu di Stasiun Bogor pada 28 Juni 2025 selepas Ashar. Setelah seluruh peserta berkumpul, perjalanan dilanjutkan menggunakan angkot sewaan menuju kawasan basecamp Wayang Bolang.
Perjalanan menuju basecamp berlangsung dalam kondisi hujan deras. Meski sebagian perlengkapan sempat terkena air, semangat para santri tidak surut. Sekitar pukul 21.00 WIB, rombongan tiba di basecamp. Setelah melaksanakan salat, makan secukupnya, dan beristirahat, mereka bersiap untuk memulai pendakian keesokan harinya.
Pada Ahad, 29 Juni 2025 pukul 05.30 WIB, rombongan mulai mendaki melalui jalur Cibodas. Perjalanan berlangsung cukup panjang dan menantang. Beberapa kali rombongan harus menyesuaikan ritme perjalanan karena kondisi masing-masing peserta.
Meski demikian, para santri menunjukkan semangat yang tinggi. Mereka saling menunggu dan menjaga satu sama lain sepanjang perjalanan.
Sekitar pukul 14.00 WIB, rombongan tiba di Kandang Badak. Di titik ini, muncul keinginan untuk melanjutkan perjalanan menuju Alun-Alun Surya Kencana, kawasan padang sabana yang dikenal dengan hamparan bunga edelweissnya.
Setelah mempertimbangkan kondisi peserta, rombongan memutuskan melanjutkan pendakian pada pukul 16.00 WIB. Perjalanan semakin menantang karena harus melewati tanjakan yang curam, termasuk kawasan yang dikenal sebagai Tanjakan Setan.
Menembus Dingin dan Kelelahan
Perjalanan menuju kawasan camp berlangsung dalam kondisi fisik yang mulai menurun dan suhu udara yang semakin dingin. Namun, semangat para santri tetap terjaga.
Bagi pendamping, tantangan terbesar bukan hanya menaklukkan medan, tetapi juga memastikan seluruh peserta tetap dalam kondisi aman. Berbagai kekhawatiran muncul, mulai dari kemungkinan kelelahan, hipotermia, hingga perubahan cuaca.
Sekitar pukul 20.00 WIB, rombongan mendirikan tenda di kawasan dekat puncak untuk beristirahat. Setelah tenda berdiri, Khaleed membantu menyiapkan tempat istirahat, sementara Aslam membuat minuman hangat dan makanan untuk seluruh peserta.
Malam itu menjadi salah satu momen yang memperlihatkan kuatnya kebersamaan mereka. Di tengah suhu dingin dan kelelahan, para santri beristirahat dalam tenda masing-masing.
Sebuah kejadian kecil bahkan sempat membuat suasana malam menjadi penuh tawa. Sekitar pukul 03.00 WIB, salah satu tenda tiba-tiba roboh. Sempat muncul kepanikan karena diduga terjadi perubahan cuaca atau angin kencang. Namun, ternyata tenda tersebut roboh setelah kaki salah seorang peserta tidak sengaja menendangnya dari dalam.
Kejadian sederhana tersebut justru mencairkan suasana dan menjadi salah satu cerita yang terus dikenang dari perjalanan mereka.
Menatap Puncak Gunung Gede
Pagi harinya, rombongan melaksanakan salat, membersihkan area perkemahan, dan memastikan sampah dibawa turun. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari lokasi camp.
Sesampainya di puncak, suasana berubah menjadi hening. Para santri yang sebelumnya dipenuhi canda dan tawa kini terdiam menikmati pemandangan alam. Kabut, langit biru, dan hamparan pegunungan menjadi saksi keberhasilan mereka mencapai puncak.
Bagi sebagian besar peserta, pencapaian tersebut menjadi pengalaman pertama mendaki gunung hingga ke puncak. Keberhasilan seluruh peserta mencapai tujuan menjadi momen yang membanggakan sekaligus mengharukan bagi pendamping.
Setelah menikmati suasana puncak, rombongan turun melalui jalur Putri dan beristirahat di kawasan Alun-Alun Surya Kencana. Hamparan sabana yang luas dan pemandangan alam menjadi kesempatan bagi para santri untuk melepas lelah sekaligus menikmati kebersamaan.
Setibanya di bawah, rombongan beristirahat di masjid warga sambil menunggu kendaraan jemputan. Rasa lelah terlihat jelas dari wajah para peserta, tetapi kebahagiaan dan kepuasan setelah menyelesaikan pendakian juga terpancar.
Lebih dari Sekadar Pendakian
Kegiatan pendakian Gunung Gede tersebut bukan sekadar perjalanan untuk mencapai puncak. Di balik medan yang berat, rasa lelah, dinginnya malam, dan berbagai tantangan yang dihadapi, para santri mendapatkan pengalaman berharga tentang disiplin, kesabaran, tanggung jawab, keberanian, serta pentingnya menjaga dan membantu satu sama lain.
Bagi para pendamping, perjalanan tersebut juga menjadi kesempatan untuk melihat perkembangan para santri dalam menghadapi tantangan. Mereka belajar bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi juga oleh kemampuan untuk saling mendukung hingga semua anggota dapat mencapai tujuan bersama.
Pendakian yang berlangsung selama dua hari itu akhirnya meninggalkan kenangan yang jauh lebih panjang. Gunung Gede menjadi ruang belajar yang berbeda—sebuah ruang belajar yang mengajarkan bahwa perjalanan menuju puncak membutuhkan kesabaran, keteguhan, dan kebersamaan.
Pada akhirnya, perjalanan tersebut bukan hanya tentang menaklukkan sebuah gunung.
.jpeg)
0 Komentar